Art Original
TESIS: AL-AQSAM FI AL-QUR’AN (Studi Penafsiran ‘A’isyah bint al-Syati’ dalam Kitab al-Tafsir al-Bayani tentang Ayat-ayat Sumpah)
Tesis ini membahas topik al-Aqsa>m fi> al-Qur’a>n (Studi Penafsiran ‘At}i’ dalam Kitab al-Tafsi>r al-Baya>ni> li al-Qur’a>n al-Kari>m tentang Ayatayat sumpah). Permasalahan pokok yang dikaji terfokus pada penafsiran ‘At}i’ tentang ayat-ayat sumpah dalam al-Tafsi>r al-Baya>ni>. Adapun sub-sub
masalah yang sekaligus menjadi tujuan penelitian adalah: (1) Bagaimana hakikat
aqsa>m al-Qur’a>n dalam al-Tafsi>r al-Baya>ni>. (2) Bagaimana bentuk-bentuk aqsa>m alQur’a>n dalam al-Tafsi>r al-Baya>ni>. (c) Bagaimana fungsi aqsa>m al-Qur’a>n dalam alTafsi>r al-Baya>ni>.
Untuk menjawab permasalahan pokok di atas maka dilakukan penelitian
kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan ilmu tafsir, filologi,
sosiologi, historis, dan psikologis. Jenis data dalam tesis ini ada dua; data pokok dan
data penunjang. Data pokok yang dimaksud adalah kitab al-Tafsir al-Baya>ni> li alQur’a>n al-Kari>m karya Bint al-Sya>t}i’, sedangkan data penunjangnya adalah literaturliteratur yang berkaitan secara langsung atau tidak langsung dengan topik yang akan
dikaji. Dalam pengelolaan dan analisis data penulis menggunakan analisis deskriptif
kualitatif. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah menginventarisasi data
mengenai qasam dalam al-Tafsi>r al-Baya>ni> li al-Qur’a>n al-Kari>m, mengolah dan
menganalisis data yang diperoleh, kemudian merumuskan dan mendeskripsikannya
dalam bentuk hasil penelitian.
Hasil penelitian tesis ini menyimpulkan: 1) Hakikat qasam dalam al-Tafsi>r
al-Baya>ni> terdiri dari dua aspek, yaitu etimologi dan terminologi. Dari segi
etimologi qasam bermakna sumpah yang benar dan sungguh-sungguh diucapkan oleh
si pengucap sumpah. Kata qasam berbeda dengan kata h{alf yang mengandung arti
kebohongan sumpah dan ketidaksungguhan si pengucapnya. Adapun dari aspek terminologi, qasam dalam al-Tafsi>r al-Baya>ni> adalah gaya bahasa dalam al-Qur’an
yang menjelaskan makna sebuah ayat dengan cara penalaran indrawi. Penalaran
indrawi yang dimaksud adalah dengan pengalihan perhatian (la>fitah) dari sesuatu
yang dapat dirasakan (hissi>) kepada sesuatu yang abstrak. 2) Bentuk-bentuk qasam
dalam al-Tafsi>r al-Baya>ni> ada dua, yaitu sumpah dengan huruf wau al-qasam dan
sumpah dengan huruf la>. 3) Fungsi aqsa>m al-Qur’a>n dalam al-Tafsi>r al-Baya>ni> telah
beralih dari fungsi asalnya yakni untuk mengagungkan atau memuliakan objek
sumpah menjadi sebuah retorika baya>ni> yang bertujuan menganalogikan antara
muqsam bih dengan jawa>b al-qasam.
Implikasi dari hasil penelitian ini adalah: 1) Para pengkaji al-Qur’an
hendaknya tidak terburu-buru memvonis bahwa kajian-kajian al-Qur’an telah selesai
dan matang karena sudah banyak dikaji para ulama, masih perlu dilakukan penelitian
yang lebih jauh dan masih terbuka lebar kesempatan untuk mengungkap rahasia dari
ungkapan-ungkapan sumpah di dalam al-Qur’an sebagaimana dilakukan oleh Bint alSya>t}i’. 2) Umat Islam patut berbangga memiliki tokoh yang ahli dalam bahasa Arab,
terutama di era sekarang yang semakin jauh dari bahasa Arab murni. Apalagi, Bint
al-Sya>t}i’ merupakan satu dari sedikit tokoh wanita yang tercatat sejarah mampu
berkiprah dalam bidang tafsir. Oleh karena itu, khususnya bagi kaum perempuan
hendaknya menjadikan tokoh ini sebagai panutan.
Tidak tersedia versi lain